Seandainya Aku Menjadi Pemimpin: Terapkan Kurikulum Berbasis Tipe Kecerdasan Manusia Dalam Pendidikan Di Indonesia

Diterbitkan pada 01 Januari 1970
cover img Seandainya Aku Menjadi Pemimpin: Terapkan Kurikulum Berbasis Tipe Kecerdasan Manusia Dalam Pendidikan Di Indonesia

Pernahkah kamu membayangkan sistem pendidikan yang berbeda dari yang kamu dapatkan selama ini? Yang menurutmu dapat menunjang potensi seseorang jauh l

Pernahkah kamu membayangkan sistem pendidikan yang berbeda dari yang kamu dapatkan selama ini? Yang menurutmu dapat menunjang potensi seseorang jauh lebih maksimal lagi. Aku, pernah. Bahkan sampai sekarang masih memikirkan hal yang sama. Andai aku menjadi seorang pemimpin, akan aku wujudkan keinginan itu.

Dulu, saat aku Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), siswa yang dianggap pintar adalah siswa yang juara kelas. Mendapatkan total nilai rapor yang tertinggi dikelas menjadi bukti terkuasainya semua mata pelajaran yang diajarkan. Apalagi nilai Ilmu Alamnya yang lebih mencolok, sudah pasti akan dijadikan panutan oleh siswa lainnya dan selalu dipuji guru.

Hingga detik ini, kejadian serupa masih terus berlanjut. Rapor yang berisikan nilai matematika, biologi, fisika, kimia, sosiologi atau akuntansi masih menjadi satu-satunya parameter dalam mengukur tingkat kecerdasan seorang anak. Entah kenapa, aku merasa ini tidak adil. Padahal banyak siswa yang juga pandai dalam seni, berpidato atau bermusik, namun tidak dianggap cerdas karena nilai matematikanya biasa saja. Seakan-akan menghilangkan kesempatan anak untuk mengembangkan sayap dan terbang ke arah yang dia mau. 

Meski dilatih sekeras apapun, hiu tak akan mampu memanjat pohon. Padahal ia ditakuti di lautan dengan gigi tajamnya dan kecepatan renangnya.

_____________

Begitupun singa yang tak akan bisa menyelam 10 menit saja tanpa alat bantu apapun, padahal ia sang penguasa rimba yang kuat dan gagah di hutan belantara. 

_____________

Manusia juga sama, tak akan pernah dipandang hebat jika berada dilingkungan yang tidak tepat.

 

Hampir sewindu belakangan aku mendambakan perubahan besar dalam sistem pendidikan di Indonesia. Bukan karena kurang puas dengan nilai rapor pas-pasan ketika sekolah dulu dan menyalahkan keberlangsungan proses belajar mengajar yang berjalan, namun lebih kepada sudut pandangku yang berubah semenjak menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL) di salah satu SMA negeri pada tingkat akhir kuliah beberapa tahun lalu. Aku melihat langsung bagaimana siswa-siswi disana begitu cerdas dalam bidang yang tidak begitu familiar di kalangan pelajar. Bukan lagi menyangkut nilai matematika, fisika, kimia atau pelajaran lain seperti di sekolah SMA pada umumnya.

 

 

 

Pengalaman Mengajar Di Salah Satu SMA Negeri Di Kota Padang, Menjadi Luar Biasa Di Lingkungan yang Tepat


Sekolah ini berbeda, tidak sama dengan sekolah lain yang aku kenal sebelumnya. Perbedaan inilah yang menjadikannya sangat berarti dan mampu membuka pikiranku lebih luas lagi mengenai pendidikan. Semua anak diterima disini, normal maupun dengan keistimewaan. Padahal SMA ini bukanlah Sekolah Luar Biasa (SLB), sekolah yang memang dikhususkan bagi anak berkebutuhan khusus. Mereka semua bergaul dan bersosial tanpa ada kecanggungan. Tidak kalah hebat, guru-guru disini juga memperlihatkan kemampuan mengajar di atas rata-rata. Bagaimana tidak, bukan hanya anak normal yang diajar, namun juga anak-anak yang membutuhkan metode ajar berbeda. Ajaibnya, dalam satu kelas yang sama, seluruh siswa dan guru bisa melangsungkan proses belajar mengajar dengan baik.

Jika SMA Negeri pada umumnya memiliki jurusan Ilmu Alam dan Ilmu Sosial, disini lebih dari setengah pilihan jurusannya terkait dengan seni.

_____________

 

Ada jurusan Multimedia, Desain Komunikasi Visual (DKV), Seni Lukis, Desain Produksi Kriya Tekstil dan Desain Produksi Interior dan Lanscaping. Tidak hanya berpatok nilai matematika, banyak parameter lain yang menggambarkan betapa cerdasnya seorang siswa, misalnya dari lukisan indah yang tercipta dari goresan pensil mereka, foto memukau hasil jepretan kamera digenggaman mereka, atau video animasi yang terlihat begitu hebat bagiku untuk sebuah karya seorang pelajar. Aku saja yang hampir menyelesaikan Strata-1 dengan jurusan Teknik Informatika, belum tentu bisa berkarya sekeren itu.

 

Aku masih ingat kejadian ketika aku mendampingi salah seorang guru yang mengajar teknik fotografi dalam sebuah kelas. Menggunakan kamera sungguhan dengan objek bunga mawar merah dalam vas bunga dengan latar belakang hitam keabu-abuan. Terlihat sederhana, hanya mengarahkan kamera dan mengambil gambar. Awalnya aku mengira bahwa inti dari pelajaran ini hanyalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar menggunakan kamera dengan benar yang mungkin tidak semua dari mereka memilikinya.

 

Ternyata setelah semua hasil foto diperlihatkan satu per satu di depan kelas, hanya ada satu foto yang paling mencolok. Bukan berarti foto yang lainnya jelek, namun satu foto itu benar-benar berbeda. Foto itu bernyawa. Dan yang lebih mengejutkan lagi, foto tersebut adalah karya seorang siswi (maaf) tunarungu dan tunawicara. Pujian dari sang guru dengan bahasa isyarat berhasil membuat tepuk tangan bergemuruh dari siswa sekelas. Aku yang duduk disebelah sang guru mendengar dengan jelas ketika ia bergumam "Dia cerdas dan berbakat".

 

Sejak saat itu sudut pandangku berubah. Anak yang cerdas bukan hanya anak yang pintar matematika, namun semua anak terlahir cerdas dibidangnya masing-masing. Mereka hanya akan berkembang maksimal jika berada dilingkungan tepat yang mendukung potensinya. 

_____________

 

Falshback ke kehidupan masa sekolahku dulu. Banyak teman yang memiliki kemampuan menggambar, menari, olahraga, musik atau bernyanyi yang tidak biasa. Sesekali mereka menerima pujian karena kekaguman, namun tidak sekalipun dibilang sebagai siswa cerdas. Nilai rapor yang sedang-sedang saja tetap menjadi parameter utama dan satu-satunya dalam menilai kecerdasan, tidak peduli akan keahlian lain yang dimiliki. Termasuk penilaianku, siswa pintar hanyalah siswa yang juara kelas dengan nilai mata pelajaran Ilmu Alam diatas delapan puluh.

 

Andai saja mereka sekolah di SMA tempatku mengajar saat itu, atau sekolah lain dengan jurusan dan kurikulum yang fokus mengembangkan potensi melukis, menari, olah vokal, atau olahraga yang mereka miliki, mungkin pujian "Cerdas dan berbakat" akan sering mereka dengar. Mata pelajaran yang berbeda dari sekolah umum, bukannya tidak mungkin akan menjadikan mereka juara kelas setiap kali menerima rapor.

 

Kabar baiknya, keberadaan SMA dengan jurusan seni seperti ini membuktikan adanya perhatian pemerintah terhadap bakat khusus yang dimiliki anak di luar pelajaran sekolah umum yang kita kenal. Namun sekolah sejenis ini hanya ada beberapa saja, sehingga tidak semua anak mendapatkan sekolah yang sesuai potensi dan kecerdasannya. Andai saja sekolah yang tersedia dapat mengembangkan seluruh tipe kecerdasan anak, bukankah pendidikan di Indonesia dapat melahirkan generasi luar biasa dengan keanekaragaman kemampuan diberbagai bidang?

 

 

 

Tidak Hanya Matematis dan Logika, Manusia Memiliki 8 Tipe Kecerdasan dengan Potensi yang Sama Besarnya.


Semakin bertambah usia, aku semakin yakin bahwa tidak ada satu pun anak yang bodoh. Apapun keadaan fisik dan mentalnya, semua anak tetap memiliki bakat dan kemampuan yang jika dikembangkan dengan tepat akan memberikan banyak hal baik demi masa depannya.

 

Pendapat ini bukan hanya berdasarkan teori yang aku baca, namun benar-benar aku saksikan. Salah satunya dengan siswa berkebutuhan khusus yang memiliki kemampuan di atas siswa lainnya meski secara fisik memiliki kekurangan. Setelah memiliki dua anak, aku juga melihat perbedaan minat mereka saat diberi stimulasi yang sama. Misalnya ketika mempertontonkan sebuah video kartun, anak-anak ini akan melihatnya dari sudut pandang berbeda. Ada yang lebih tertarik dengan warna warninya, ada yang langsung dapat menyanyikannya dengan fasih dan lebih fokus melihat angka atau huruf yang ada. Menurutku, ini salah satu bukti bahwa potensi, bakat dan minat anak berbeda.

 

Orang tua tidak bisa memaksakan bakat anak, namun yang harus diperhatikan adalah minat sang anak. Orang tua harus mendukung bakat yang sesuai dengan minat anak agar potensinya dapat berkembang dengan maksimal.

_____________

 

Teori tipe kecerdasan manusia ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1983 oleh pakar pendidikan dan psikolog terkenal dari Universitas Harvard, Prof. Howard Gardner, dalam bukunya Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences. Howard percaya bahwa teori ini dapat mengoptimalkan kemampuan diri seseorang. Howard membagi tipe kecerdasan manusia menjadi delapan jenis.

Selengkapnya di http://www.novarty.com/2020/11/seandainya-aku-menjadi-pemimpin-terapkan-kurikulum-berbasis-tipe-kecerdasan-manusia-dalam-pendidikan-di-indonesia.html

Blog Lainnya

cover img Eksistensi Generasi Milenial Dalam Menjaga Kelestarian Hutan Indonesia

Eksistensi Generasi Milenial Dalam Menjaga Kelestarian Hutan Indonesia

Diterbitkan pada tanggal 27 Maret 2021

Hidup Dalam Keseimbangan Dengan Alam Kita sebagai manusia haruslah menyadari bahwa kita harus menjaga keseimbangan dalam hidup kita, seperti dalam

Baca Selengkapnya
cover img Melindungi Hutan Menjaga Kehidupan

Melindungi Hutan Menjaga Kehidupan

Diterbitkan pada tanggal 26 Maret 2021

Hutan adalah kehidupan. Melindungi hutan sama dengan menjaga sumber kehidupan. Kehidupan di bumi saling kait mengait. Berpilin-pilin bagai kelindan. M

Baca Selengkapnya
cover img Perlunya Edukasi Untuk Menjaga Hutan di Sekitar Kita

Perlunya Edukasi Untuk Menjaga Hutan di Sekitar Kita

Diterbitkan pada tanggal 25 Maret 2021

Beberapa hari lalu ketika sowan Bulik suami, saya sempat diceritakan tentang teman beliau. Seseorang yang mempunyai sifat kepemimpinan, memiliki karak

Baca Selengkapnya
cover img Pohon Sebagai Warga Negara

Pohon Sebagai Warga Negara

Diterbitkan pada tanggal 24 Maret 2021

Seandainya Saya menjadi seorang pemimpin, setiap jenis pohon akan dilantik sebagai warga negara yang sah. Pelantikan dengan iring-iringan musik masyar

Baca Selengkapnya
cover img Perubahan Iklim di Indonesia, Kitalah Penyebabnya

Perubahan Iklim di Indonesia, Kitalah Penyebabnya

Diterbitkan pada tanggal 23 Maret 2021

Untunglah jembatan itu sudah selesai dibangun. Aku menyebutnya Jembatan Sampah, meski pemerintah setempat telah memberinya nama Jembatan Wali Kota.

Baca Selengkapnya