GOLHUT x DDA BLOG COMPETITION WINNER

Diterbitkan pada 24 Januari 2021
cover img GOLHUT x DDA BLOG COMPETITION WINNER

Hutan Tidak Bicara, Tapi Hutan Punya Banyak Cerita : Jika Saya Menjadi Menteri Keuangan, Green Economy Saya Terapkan untuk Perlindungan Hutan Indonesi

Hutan Tidak Bicara, Tapi Hutan Punya Banyak Cerita : Jika Saya Menjadi Menteri Keuangan, Green Economy Saya Terapkan untuk Perlindungan Hutan Indonesia

 

Ada Cerita dari Hutan : Edisi Menyusuri Taman Nasional Sebangau

Waktu menunjukkan pukul 13.02 WIB. Saya melirik sekilas ponsel saya, lalu segera memasukkannya kembali ke dalam saku celana. Mode pesawat diaktifkan, otomatis tak ada notifikasi apapun di layar ponsel. Saya hanya ingin memastikan sudah berapa lama saya berada di atas udara. Delapan belas menit lagi, pesawat Singa Merah berjenis Boeing 737-800 berkapasitas maksimal 189 penumpang ini akan mendarat di Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya. Beberapa kursi di dekat sayap pesawat banyak yang kosong, demikian pula dekat pintu keluar bagian belakang. Penerbangan dari Cengkareng menuju ibukota Kalimantan Tengah ini tak membawa full penumpang. 

Saya sedikit mual, desing mesin pesawat membuat telinga saya berkedut-kedut tak karuan. Pening di kepala semakin menjadi-jadi. Rasanya otak saya ingin meledak. Sepertinya saya mabuk udara. Padahal sehari sebelumnya, dalam penerbangan dari Yogyakarta menuju Cengkareng saya baik-baik saja. Saya memutuskan menuju toilet. Lemas. Sekeluarnya dari toilet, saya merebahkan diri di kursi kosong yang letaknya dekat pintu keluar bagian belakang. Saya menenangkan diri barang sebentar. Dari jendela gumpalan awan tebal serupa bola-bola kapas berwarna putih segera tergantikan oleh awan kelabu. Mendung. Nampaknya rinai hujan akan menyambut kedatangan kami di Palangkaraya. Dari bawah hanya nampak lautan sejauh mata menatap. 

Beberapa menit kemudian, sebuah daratan hijau mulai nampak. Sebentar lagi saya akan mendarat di Borneo. Pesawat menukik tajam. Dari kaca jendela, saya menyaksikan hamparan pohon sawit serta kawasan hutan yang sangat luas sejauh mata memandang. Namun, semakin dekat menuju bandara, saya menyaksikan pemandangan yang menggiriskan hati. Sisa-sisa kebakaran hutan dan lahan nampak menghitam dari udara. Saya tidak bisa memastikan berapa hektar lahan yang terbakar di area sejauh ekor mata saya mengamati. Pastinya sangat luas. Sebab titik-titik hitam itu menyebar di beberapa area. 

Berkat menulis artikel dengan tema konservasi, hutan, dan keanekaragaman hayati, saya berkesempatan bertandang ke Kalimantan Tengah. Kedatangan saya ke Kalimantan Tengah tidaklah sendiri. Saya bersama Salza dan Apri bertujuan mengunjungi Taman Nasional Sebangau, sebuah kawasan konservasi dan hutan tropis yang dilindungi yang membentang sepanjang 542.141 hektare, rumah bagi lebih dari 6.000 orangutan. Di samping itu ada Kak Eka perwakilan dari Dirjen KSDAE (Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang mendampingi kami bertiga. Ini adalah kali pertama saja menjejak tanah Borneo, menuju belantara hutan gambut. Saya, Salza, dan Apri sangatlah beruntung dapat kesempatan mengunjungi kawasan hijau ini. 

 

Kalimantan Tengah merupakan propinsi terbesar di Pulau Kalimantan, luas wilayahnya mencapai 15,4 juta hektare. Sebagian besar wilayahnya adalah hutan yang sangat luas dan lebat (12,6 juta hektare). Tanahnya bergambut dan berawa. Kalimantan Tengah memiliki lahan gambut terluas setelah Papua, yakni sekitar 2,7 juta hektare.

 

Setibanya di Tjilik Riwut, kami disambut oleh suara merdu alat musik lokal berupa Suling Balawung dan kecapi. Tjilik Riwut merupakan bandara seluas 29.124 meter persegi dan dapat menampung sekitar 2.200 orang. Tjilik Riwut sendiri sebenarnya merupakan nama mantan Gubernur Kalimantan Tengah yang kemudian diabadikan menjadi sebuah bandara. 

 

Berkat dedikasi, kepiawaian, dan jiwa kepemimpinannya membangun Kalimantan Tengah, masyarakat adat Dayak di sana memberikan apresiasi dan penghormatan yang tinggi kepada Tjilik Riwut. Tjilik Riwut berasal dari Suku Dayak Ngaju dan dikenal juga sebagai Orang Hutan. Sebagai orang yang dilahirkan dan dibesarkan di belantara hutan, Tjilik Riwut sangatlah bangga terhadap hal tersebut. Karena menguasai belantara hutan di Kalimantan dengan baik, memudahkan Tjilik Riwut berdiplomasi dan menyatukan 142 suku dayak, 145 kepala kampung, 12 kepala adat, 3 panglima, 10 patih dan 2 tumenggung sehingga mampu memimpin pertempuran melawan tirani dan penjajahan Belanda-Jepang di era kemerdekaan Indonesia. Tjilik Riwut juga didaulat sebagai komandan pasukan terjun payung pertama di Indonesia dan memimpin operasi militer menembus blokade Belanda di belantara hutan Kalimantan kala itu (17 Oktober 1947). Tjilik Riwut meninggal pada tahun 1987 Rumah Sakit Suaka Insan, Banjarmasin. Jasad beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Sanaman Lampang, Palangkaraya. Sebagai bentuk penghormatan, nama beliau disematkan sebagai nama bandara terbesar di Kalimantan Tengah.

 

Seandainya Tjilik Riwut masih hidup hingga saat ini, apakah beliau tidak terluka hatinya mengetahui hearth of Borneo berupa hutan di Kalimantan Tengah terbabat oleh kobaran api dan keegoisan manusia?

 

Mbak Arinta, karena kondisi di Palangkaraya sedang tidak bagus. Keberangkatan ini kami tunda dulu. Mohon bersabar ya. Kami pun menunggu informasi terbaru dari tim lapangan yang ditempatkan di sana. Mengenai teknis keberangkatan, nanti akan saya kabari lagi jika ada informasi lebih lanjut. Sebuah text messaging dari perwakilan KLHK masuk di whatsapp saya. Memberikan kabar terkini mengenai keadaan di ibukota Kalimantan Tengah.

 

Seharusnya, kami berangkat ke Kalimantan Tengah pada Bulan Agustus 2019, tetapi karena terjadi insiden karhutla, keberangkatan kami ditunda lebih dari 3 bulan. Kota Palangkaraya berselimut asap akibat kebakaran hutan dan lahan tersebut. Bahkan sekolah pun diliburkan berdasarkan Surat Instruksi Gubernur Kalteng tertanggal 13 September 2019. Dikutip dari Mongabay pada 15 September 2019, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di sana terpantau sangat membahayakan (tembus 20 kali lipat dari batas normal) dan berdampak serius pada kesehatan. Data dari BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) pada 16 September 2019 mencatat terdapat 2.637 orang menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat kualitas udara yang sangat buruk tersebut. Hingga 19 September 2019, jumlah titik panas mencapai angka 1.996. Untuk mengatasi krisis tersebut, berbagai upaya pun dilakukan seperti melakukan pengeboman air dari udara melalui 7 helikopter (29 juta liter air digunakan) dan melibatkan lebih dari sepuluh ribu personil, termasuk para relawan. Selain itu juga dilakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Karhutla sepanjang 2019 membabat habis 857.756 hektare luas lahan. Terparah dalam kurun 3 tahun terakhir, dengan rincian 630.451 hektare lahan mineral dan 227.304 hektare lahan gambut (Sumber : KLHK).

 

Karhutla di Kalteng terjadi hampir sepanjang tahun. Bahkan di era pandemi seperti sekarang ini, masih saja terjadi karhutla, meski mengalami penurunan kejadian/intensitas jika dibandingkan tahun 2019. Berikut saya lampirkan data terkini mengenai infografik akumulasi karhutla di Provinsi Kalimantan Tengah dari Januari hingga tanggal 28 Juli 2020. 

Baca selengkapnya di https://www.arintastory.com/2020/11/hutan-tidak-bicara-tapi-hutan-punya.html

 

 

 

 

Blog Lainnya

cover img Eksistensi Generasi Milenial Dalam Menjaga Kelestarian Hutan Indonesia

Eksistensi Generasi Milenial Dalam Menjaga Kelestarian Hutan Indonesia

Diterbitkan pada tanggal 27 Maret 2021

Hidup Dalam Keseimbangan Dengan Alam Kita sebagai manusia haruslah menyadari bahwa kita harus menjaga keseimbangan dalam hidup kita, seperti dalam

Baca Selengkapnya
cover img Melindungi Hutan Menjaga Kehidupan

Melindungi Hutan Menjaga Kehidupan

Diterbitkan pada tanggal 26 Maret 2021

Hutan adalah kehidupan. Melindungi hutan sama dengan menjaga sumber kehidupan. Kehidupan di bumi saling kait mengait. Berpilin-pilin bagai kelindan. M

Baca Selengkapnya
cover img Perlunya Edukasi Untuk Menjaga Hutan di Sekitar Kita

Perlunya Edukasi Untuk Menjaga Hutan di Sekitar Kita

Diterbitkan pada tanggal 25 Maret 2021

Beberapa hari lalu ketika sowan Bulik suami, saya sempat diceritakan tentang teman beliau. Seseorang yang mempunyai sifat kepemimpinan, memiliki karak

Baca Selengkapnya
cover img Pohon Sebagai Warga Negara

Pohon Sebagai Warga Negara

Diterbitkan pada tanggal 24 Maret 2021

Seandainya Saya menjadi seorang pemimpin, setiap jenis pohon akan dilantik sebagai warga negara yang sah. Pelantikan dengan iring-iringan musik masyar

Baca Selengkapnya
cover img Perubahan Iklim di Indonesia, Kitalah Penyebabnya

Perubahan Iklim di Indonesia, Kitalah Penyebabnya

Diterbitkan pada tanggal 23 Maret 2021

Untunglah jembatan itu sudah selesai dibangun. Aku menyebutnya Jembatan Sampah, meski pemerintah setempat telah memberinya nama Jembatan Wali Kota.

Baca Selengkapnya